Tibalah aku dalam sebuah masa dimana aku dihadapkan pada suatu situasi yang tak menentu. Di perantauan ini memang membuatku tidak berpikir tentang wanita sedikitpun, hatiku seakan hampa karena prioritas utamaku adalah pekerjaan terlebih dahulu, Meninggalkan pulau Sulawesi dan berharap terangkat jadi PNS adalah tujuan utamaku meninggalkan kampung halaman. “Pokoknya tujuan utamamu itu, jangan berbuat macam-macam, ingat orang tua, saudara dan kampung halaman apabila terbesit dalam benakmu berbuat yang tidak baik dan tidak senonoh”, itu Cuma sekelumit wejangan yang diamanahkan kakak kepadaku dan kata-kata itu masih terngiang di Telingaku sampai sekarang.

      Hingga suatu ketika lewat sebuah situs pertemanan “Facebook” kutemukan seorang yang mampu membuat dadaku bergetar hebat. Namanya Cahaya, lebih lengkapnya Cahaya Surga. Dia bersuku Jawa dan tinggal di Jawa pula, sementara aku suku Makassar dan sekarang tinggal di Kalimantan Timur. Menilik dari namanya dia memang cukup sederhana, Dia tiba-tiba muncul menjadi seorang member yang bergabung di Fanspage tentang pesepakbola yang kami idolai. Awalnya biasa saja, karna masih kurangnya member maka apabila aku membuat satu status di FP yang “like” dan “comment” Cuma dua orang saja, Cahaya dan seorang perempuan satu lagi tapi mengaku masih ABG. Singkat cerita dari seringnya kami saling mengomentari akhirnya terjalin sebuah hubungan pertemanan yang cukup baik.

      Aku sempat timbul tenggelam dalam pengelolaan Fanspage tersebut, kadang mengupdate berita kadang tidak dikarenakan aku sibuk saat itu. Hal ini sempat membuat kami putus Komunikasi, pernah juga masuk pesannya di inbox FB menanyakan kabar kenapa aku tidak pernah update status lagi, aku Cuma menjawab sibuk. Aku kurang tau berawal dari mana sehingga kami saling chatting lagi lewat FB, dan juga tidak tau kenapa mulai timbul rasa yang membuatku menggelegak hebat. Wajahnya sederhana, umurnya juga terpaut lima tahun di atasku, tapi yang membuat aku tertarik adalah kelembutannya. Meskipun kami tidak pernah bertemu tapi aku bisa merasakan itu.

       Minggu 27 Mei 2012 merupakan tanggal di mana aku nekat menembaknya, mengungkapkan perasaan bahwa aku sangat mencintainya. Dia sempat bercerita kalau sebenarnya dulu ada yang pernah melamarnya, tapi dia menolak secara halus karena Pria tersebut sering bepergian ke luar negeri, “Jauh” katanya. Otomatis aku yang merasa jaraknya jauh darinya juga merasa bahwa aku senasib dengan Pria itu, Cuma mungkin ada beberapa perbedaan antara aku dengan pria itu. Orang yang sering ke luar negeri bersekolah sudah barang tentu bukan orang miskin, sementara aku yang hanya anak petani dan orang miskin merantau mencari peruntungan di Negeri orang hanya dengan bermodalkan kepercayaan kepada Tuhan yang maha Esa. Tapi itu semua tak membuatku surut, jawabannya tetap aku tunggu. Diapun memutuskan akan memberikan jawabannya esok hari. Hanya 24 jam tapi waktu itu bagiku teramat lama…

Menunggu adalah pekerjaan tersulit……