Jeneponto merupakan salah satu kabupaten yang terletak di Propinsi Sulawesi Selatan, Indonesia. Terkenal sebagai Kota Turatea, yang berarti “orang dari atas“. Jeneponto juga terkenal seebagai kota Kuda, makanya apabila kita sudah memasuki kota Bontosunggu yang merupakan ibukota Kabupaten Jeneponto, Kita akan disuguhi pemandangan sebuah patung Kuda di dekat Parang Passamaturukang. Salah satu hal yang mungkin membuat Jeneponto di kenal sebagai kota kuda adalah adanya pasar yang khusus menjual kuda terletak di daerah Tolo’ dan hal lain tentu saja karna Coto Makassar dan Konro-nya. Daerah ini secara geografis terbagi atas dua wilayah, Wilayah Utara yang terkenal dengan pertaniannya yang subur dan pesisir Selatan yang merupakan daerah dataran rendah dengan kekeringan yang panjang apabila musim penghujan datang. Tak heran kalau Jeneponto terkenal sebagai daerah gersang dan tandus karna jalan poros Propinsi yang melalui daerah ini adalah wilayah selatan, Padahal sebenarnya Jeneponto juga memiliki daerah yang subur.

Mendengar kata Jeneponto sebagian orang mungkin terbayang dengan kegersangan dan kekeringan. Penulis sendiri punya pengalaman cukup unik mengenai hal tersebut. Penulis adalah Putra daerah kelahiran Linrung Loe,Pokobulo Desa bangkala Loe Kec.Bontoramba, Kebetulan setelah tamat SD, penulis ikut dengan saudara yang bertugas di Pinrang dan bersekolah di sana sampai tamat SMU. Suatu hari penulis ingin pulang ke Jeneponto, tiba –tiba ada teman yang nyelutuk sambil bercanda,”Jangan lupa oleh-olehnya kalau pulang nah..” belum sempat penulis menjawab ada teman lain yang memotong “Uchh,, Punya oleh-oleh apa dari Jeneponto, Jeneponto kan Gersang”. Penulis sempat terbengong dan sedikit tidak percaya dengan kata teman tadi. Perasaan jadi campur aduk, mau marah penulis pikir ucapan teman ada benarnya , malu tapi merasa mempunyai harga diri juga, akhirnya dengan sedikit diplomatis penulis menjawab,”Jeneponto gersang bukan berarti tidak punya apa-apa, masyarakat di sana tidak mungkin bisa hidup kalau memang tidak ada yang bisa dimakan, banyak kok oleh-oleh yang mungkin disini tidak punya ada Sirsak, buah lontar dan banyak yang lainnya”. Teman yang memotong tadi jadi sedikit terdiam, penulis juga kurang tahu apa yang sedang berkecamuk dipikirannya, mungkin saja mengiyakan kata-kata dari penulis atau mungkin juga merasa bersalah atas kata-katanya tadi. Yang penulis sayangkan setelah pulang dari Jeneponto, Oleh-oleh yang penulis bawa sudah ludes diberondong tetangga sebelum bawa oleh-olehnya ke Sekolah sebagai pembuktian. Tapi sudahlah mungkin juga teman tadi sudah lupa. Dari pengalaman tersebut, penulis bisa menarik sedikit kesimpulan bahwa betapa buruknya Jeneponto dimata mereka yang belum kenal betul daerah ini. Untuk itulah penulis mengajak kepada Generasi muda jeneponto untuk bisa ikut serta dalam mengharumkan nama daerah , tentu saja dalam kegiatan yang positif. Penulis Cuma bisa mengajak pembaca karna penulis sendiri sekarang sementara merantau ke Kalimantan (merantau bagi penulis bukan hal yang memalukan tetapi salah satu sikap pantang menyerah didalam hidup seperti juga Nabi Muhammad SAW yang hijrah ke Madinah) tapi insya allah kalau sudah berhasil berniat kembali ke kampung untuk ikut serta membangun daerah tercinta. Bagaimanapun seperti kata pepatah “Walaupun hujan emas di Negeri lain, Lebih baik hujan batu di Negeri sendiri”.

Masyarakat Jeneponto sebagaimana suku Makassar pada umumnya memegang prinsip Siri’ Na Pacce, yang artinya Malu dan sedih. Malu apabila harga diri diinjak-injak orang lain serta berbuat sesuatu yang tidak sesuai dengan norma dan sedih atau ikut merasakan penderitaan sesama yang harga dirinya diinjak-injak. Makanya muncul pepatah ” Punna tanre siri’nu, Paccenu tong isse pa’nia” artinya kalau kamu tidak mempunyai malu maka rasa sedihmu yang kau munculkan. Adapula pepatah ” A’bulussibatanng Accera’ Sitongka-tongka” yang maknanya kurang lebih kalau masyarakat jeneponto Sangat peduli terhadap persatuan atau gotong royong, tetap solid dalam keadaan apapun disertai sifat pantang menyerah. Seperti yang dituliskan di atas, Daerah selatan dikenal sebagai daerah yang tandus, sehingga kadang orang menilai jeneponto itu tidak ada apa-apanya tapi justru inilah yang menjadi sisi positif masyarakat Jeneponto. Dengan Kekurangan tersebut Masyarakat jeneponto mampu bertahan hidup. Ada beberapa daerah yang bisa dinilai cukup berhasil, Tengok saja daerah Nasara’, daerah ini mampu menjadi penghasil garam yang cukup diakui di wilayah Sulawesi selatan sendiri dan bahkan Indonesia, belum lagi daerah lain yang mampu menjadi penghasil cabai dan jagung serta masih banyak yang lainnya.(maaf yang daerahnya tidak disebut jangan marah)

Beberapa hal yang cukup menggembirakan dengan kabupaten Jeneponto sekarang, Di daerah Bangkala telah dibangun sebuah PLTU yang diharapkan bisa menyuplai pasokan listrik di Sulawesi selatan serta rencana pembangunan pabrik Nikel yang tentu saja dengan adanya hal tersebut mudah-mudahan bisa menyerap tenaga kerja dari putra daerah. Adapula rencana pembangunan Waduk Kareloe yang mudah-mudahan bisa terwujud , adanya waduk tersebut diharapkan bisa lebih memakmurkan daerah yang terkenal kering ini. Penulis yakin apabila waduk ini berdiri, Jeneponto bisa mengejar ketertinggalannya dari daerah lain. Masalah SDM sebenarnya banyak mutiara terpendam yang bertaburan di daerah ini. Penulis jadi kembali teringat dengan teman yang selalu Rangking 1 waktu SD, Dia putus sekolah gara-gara masalah biaya, dan ini PR bagi pemerintah untuk bisa menyaring dan memperhatikan mereka yang berprestasi, seraya berharap mudah-mudahan kejadian yang menimpa teman penulis tidak terulang lagi.

SEMANGAT KI’ JENEPONTO…………